Total Tayangan Halaman

Pengikut

Selasa, 07 Mei 2013

“Dalang Galau Ngetwit”; Karya Sujiwo Tejo Sedikit Kisah Dibalik Pembuatan Buku

“Dalang Galau Ngetwit”; Karya Sujiwo Tejo Sedikit Kisah Dibalik Pembuatan Buku memang tak ada hubunganya dengan Reggae, tetapi saya (Admin) ngefans sama Mbah Sudjiwo Tedjo. 

Kawan mungkin sangat familiar dengan penulis ini, ya ia adalah seorang dalang yang nyentrik dan seorang penulis yang produktif. Beberapa karyanya sudah di terbitkan di beberapa penerbit. salah satunya adalah penerbit Iimania. Buku pertama yang di terbitkan Iimania laris di pasaran, serapannya bagus dan mampu membuat orang menjadi sedikit ngawur tetapi benar. hahha, ya buku pertama Mbah adalah  “Ngawur Karena Benar”. Di dalam buku itu Sujiwo Tejo mengulas tentang kengawuran-kengawurannya.  Selama ini Mbah melihat bahwa kesantunan dan berbudi pekerti itu, tidak lebih hanya sebagai kedok  atau kepalsuan belaka. mungkin saya menulisnya hanya lebih bersifat seremonial ketimbang esensialnya.


Tina Talisa seorang presenter cantik itu bahkan mengomentari bukunya Mbah Tejo ini “Tulisan yang mengalir dan terasa kengawurannya dengan nyata. Mengacak-acak pikiran ke arah yang benar.  Lain lagi dengan komentarnya Rosiana Silalahi. Ia berkomentar “Normalnya, melihat kengawuran itu menyebalkan, namun, saat yang di sebut normal itu justru merusak akal sehat, lalu kita mau apa? disinilah mengapa Seorang Sujiwo Tejo ada. Ia berani ngawur, menabrak batas normal yang sering penuh kepalsuan.

Setelah sukses dengan buku tersebut, Mbah Tejo kembali mengeluarkan bukunya lagi. “Dalang Galau Ngetwit”. menarik, dari judulnya saja, Sujiwo Tejo yang memang seorang dalang dan juga begitu aktif di dunia pertwiteran ini, selalu di tunggu-tunggu kicauannya. kicauannya Laksana Kenari, ia bernyanyi, keras menabrak sistem yang ada, namun kadang begitu romantis. Saya  sangat berbahagia sekali dapat berkesempatan untuk menemani Mbah dalam proses kreatif buku itu di sebuah Villa di kaki Gunung Salak selama 4 hari 3 malam. Dalam prosesnya ini memang Mbah sangat disiplin sekali dalam mengatur waktu.

Pengalaman ini jelas sangat menambah wawasan dan pengalaman saya dalam kehidupan ini. Bagaimana bersahajanya Mbah, bagaiman ide-ide spontannya keluar, mengalir deras. Selama beberapa hari itu saya membacakan hasil twit-twit beliau untuk di jadikan naskah ini.  Istilahnya di jahit. Proses kreatif  itu sebenarnya adalah penyempurnaan saja dari proses yang panjang dan lama. Kemudian untuk finishingnya di lakukan di  Villa itu dan kemudian di lanjutkan di rumah Mbah sendiri.Mas Fareid dan Mbak Tantri yang kesana. Proses itu  selesai dan lahirlah buku itu Dalang Galau Ngetwitt.

dalam bab 41, Mbah berkicau “Jangan-jangan yang kalian sembah itu bukan Tuhan, tapi terduga Tuhan, pantesan berantem rebutan dugaan”. hahahaha, kicauan itu mungkin tidak pernah terfikir oleh kita, namun  itu keluar dari seorang Sujiwo Tejo, seorang dalang yang sedang galau, galau karena seringnya mendengar kata “Terduga” sehingga Mbah mempunyai fikiran yang kita sembah itu mungkin saja terduga Tuhan, ckckckck. luar biasa.  Nah dalam bab 45, Mbah juga berkicau tentang negeri yang baik “Di Negeri yang baik rakyat segala-galanya, di negeri yang tak baik rakyat segalau-galaunya”..hahahaha. hanya tinggal kita tambahkan huruf “U” saja perubahan makna menjadi luas dan liar.  kadang pengguna twitter itu suka mengada-ada.  Dengan kicauan-kicauan orang-orang itu, kemudian juga muncul ide dari seorang followers Mbah yang mengatakan bahwa Malaikat Roqib dan Atid menjadi ngnggur karena manusia mencatat amal-amalnya sendiri di TL.hahaha

Buku ini mampu membuat kegalauan kita semakin jadi, bahkan semakin akut di buatnya. kita akan mendapatkan pencerahan kegalauan dan pancarannya mampu membuat kita tersadarkan. untuk itu ada beberapa tokoh yang bersedia memberikan komentarnya terhadap buku ini.
Bapak KH Ahmad Mustopha Bisri seorang ulama, budayawan dan sastrwan di Rembang ini, berkomentar pada buku Mbah, “twit-twitnya di tunggu dengan berbagai karena. Ada yang menunggu-nunggu twitnya karena menyenangi urakannya, ada yang karena guyonannya. ada yang karena keseriusannya. ada yang karena nakalnya. ada yang karena romantisnya. ada yang karena cerita-ceritanya. ada yang karena kritisnya. ada yang karena falsafahnya. ada yang karena kearifannya..

Bapak MAhfud MD juga berkomentar “…Disampaikan secara edan-edanan, kadang mengumpat, kadang menyindir, kadang mengejek dirinya sendiri, tetapi mengandung pesan-pesan yang dalam. Dari halaman manapun mulai membacanya, kita bisa menemukan pesan-pesan penting dari buku ini. Setiap kalimat pendek, seperti yang di jatahkan untuk ngetwit, bisa di olah Sujiwo Tejo sehingga tetap menarik dan bernas.”
Lain lagi komentar dari Dewi ‘Dee’ Lestari. Ia berkomentar “Mengenal Sujiwo Tejo selama ini, baik secara langsung maupun sekadar menguntit celetukan 140 karakternya di twitter, saya berani menyimpulkan bahwa ‘dalang galau’ hanya sekelumit peran yang ia pilih dan sajikan untuk publik. Dimata saya, Sujiwo Tejo sesungguhnya adalah penelusur kalbu yang mampu berfikir merdeka, berkata merdeka, menghibur dan menyentil secara merdeka. dan untuk mencapai itu, yang dimilikinya tentu lebih dari sekadar kegalauan, melainkan pencerahan.

Sambil mendengarkan lagu anyam-anyaman nya mbah tejo, setelah menulis singkat ini aku hirup kembali narkopian ku sembari memandang kebelakang, pengalaman yang masih membekas bersama mbah di Kaki gunung SAlak.

 

 

»»  LANJUTKAN MEMBACA

Jogja Reggae Fest 2 Sudah Berlalu

Event besar tahunan yang di gelar komunitas Indonesia Reggae Community yaitu Jogja reggae fest berjalan dan meriah. Untuk acara Jogja Reggae Fest #2 mendatangkan Guest start monkey boots, Ras muhammad, dan sang legenda Tony Q.

Acara di mulai sempat mundur, yang sebenarnya acara di mulai pukul 13.00 namun akhirnya di mulai pukul 13.00, gerbang tiket di buka sebelum pukul 13.30. Sepanjang jalan di kridosono ramai dengan para reggaeman dan regewati yang menunggu gerbang tiket di buka. Berbagai kota datang di yogyakarta hanya untuk datang dan menyaksikan event tahun dan juga anniversary IRC.

Acara di mulai dan di opening oleh band asal magelang red sweet guava, dan di lanjutkan dan tuan rumah yaitu WithCampbills.  lanjutkan People java rasta, lapizt legizt dan masih banyak lainnya. Tidak sempat di TKP karena keterbatasan waktu.

Di lanjutkan datang sekitar pukul 20.30, Burger time tampil dengan enerjik, namun ada yang berbeda di personil Burger time. Setelah Burger time, di lanjutkan dengan musik ska rocksteady, Monkey boots tampil dan gerakan yang lincah mengajak para penonton untuk bergoyang ala jamaika. Dengan hanya beberapa lagu saja akhirnya monkey boots selesai dengan penampilan yang sangat bagus.

Di lanjutkan oleh tuan rumah, Marapu band jogja yang kebayakan bukan orang jogja melainkan dari orang timur jauh di sana. Dengan penampilan yang keren akhirnya, di acara inilah mulai hebohnya dan makin meriah. Setelah turunnya marapu di lanjtut kan oleh Ras Muhammad duta reggae indonesia.

Getaran bass drum dan dan guitar membuat jantung berdetak dan mengajak untuk bergoyang, beberapa lagu yang di nyanyikan oleh Ras muhammad antara lain Negeri pelangi, Musik reggae ini, dan masih banyak lagi. Semua berjoget mengikuti irama.

Di pengujung waktu mulailah penampilan Tony Q dengan gaya yang santei. Durasi yang di mainkan Tony Q sama dengan ras muhammad sekitar satu jam. Cukup susah juga menghafalkan lagu yang di nyanyikan. beberapa lagu yang di nyanyikan Tony Q antara lain, tertanam, kong kalikong, pesta pantai, lukisan cinta, dan masih banyak lagi. Dan lagunya menjadi penutup acara ini adalah Pesta pantai dengan gaya santei Tony Q mengucapkan terima kasih dan mengucapkan sampai jumpa lagi.

Sumber
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Rabu, 03 April 2013

Kita Lihat Sejenak 5 Dosa Soeharto Kepada Soekarno

 Peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno pada Presiden Soeharto diiringi kematian ratusan ribu orang. Sejumlah kalangan menyebut peralihan kekuasaan itu sebagai kudeta merangkak. Setahap demi setahap, Soeharto mulai menggembosi kekuasaan Soeharto. Berangkat dari surat perintah 11 Maret 1966, Soeharto mulai bergerak cepat. Keesokan harinya dia membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan didukung MPRS, PKI dinyatakan sebagai partai terlarang.

Lalu Soeharto mulai menangkap anggota kabinet Dwikora yang diduga terlibat PKI. 16 Menteri ditangkap walau tak jelas apa peran mereka dalam gerakan 30 September. Saat itu Soeharto bergerak didukung mahasiswa dan rakyat yang anti-PKI.
Puncaknya, 7 Maret 1967 MPRS bersidang untuk mencabut mandat Presiden Soekarno kemudian melantik Soeharto sebagai pejabat presiden.

Proses pengambilalihan kekuasaan antar rezim biasa terjadi. Tapi yang menyakitkan, Soeharto kemudian memperlakukan Soekarno sebagai pesakitan. Rasanya tak adil seorang proklamator berjasa besar diperlakukan demikian.
 
Berikut dosa-dosa Soeharto pada Soekarno:

1. Menjadikan Soekarno tahanan rumah
Soeharto menahan Soekarno di Wisma Yasoo, Jl Gatot Soebroto, Jakarta. Rumah ini dulunya adalah kediaman salah satu istri Soekarno, Ratna Sari Dewi.

Di tahanan itu, Soeharto melarang Soekarno menemui tamu. Dia diasingkan dari dunia luar. Belakangan pemerintah Orde Baru juga melarang Soekarno membaca koran , mendengarkan radio dan menonton televisi. Akibat pengasingan ini, Soekarno mulai pikun. Sejumlah saksi menyebutkan Soekarno kerap bicara sendiri. Dia kemudian sakit dan akhirnya meninggal.

2. Tolak lokasi makam Soekarno
Soekarno pernah berpesan ingin dimakamkan di kawasan batu Tulis Bogor. Di tengah hamparan sawah, pegunungan dan gemericik air sungai.

Tapi Soeharto merasa terlalu berbahaya jika makam Soekarno terlalu dekat dengan Jakarta. Dia memindahkan lokasi penguburan ke Blitar, Jawa Timur. Alasan Soeharto, Soekarno sangat dekat dengan ibunya dulu di Blitar. Protes sejumlah keluarga Soekarno tak didengar Soeharto. Rupanya Orde Baru masih khawatir dengan kharisma pemimpin besar revolusi ini.

3. Biarkan penyakit Soekarno
Selama menjadi tahanan politik, kondisi Soekarno semakin memburuk. Dia menderita penyakit ginjal dan rematik.

Pemerintah Orde Baru tak pernah memperlakukan Soekarno sebagai mantan pemimpin besar. Mereka memperlakukan Soekarno seperti penjahat politik yang berseberangan dengan penguasa. Tahun 1969, saat Soekarno menghadiri pernikahan Rachmawati, itulah kala pertama dia bisa keluar dari tahanan rumah. Dengan pengawalan ketat Soekarno hadir. Saat itu hampir semua hadirin menangis melihat Soekarno yang tampak lemah, wajahnya bengkak-bengkak dan kondisi fisiknya sangat menurun.

4. Habisi para Soekarnois
Orde Baru memandang Soekarnois atau pengagum ajaran Bung Karno sama berbahayanya dengan Partai Komunis Indonesia. Maka saat pembunuhan itu, seringkali para algojo tak ambil pusing apakah target mereka Soekarnois atau komunis.

Jika mau melawan, sebenarnya massa pendukung Soekarno masih banyak. Begitu pula tentara loyalis Soekarno. Setidaknya ada angkatan udara, KKO (sekarang marinir), Divisi Siliwangi dan Brawijaya yang loyal padanya. Tapi Soekarno memilih mengalah, walau diperlakukan seperti tawanan. Dia tak ingin ada banjir darah lagi di Indonesia.

5. Jauhkan Soekarno dari orang-orang dekatnya
Soeharto melarang semua orang menjenguk Soekarno. Termasuk keluarga dekatnya. Ada pengawal kesayangan Soekarno yang juga akhirnya dipenjara oleh Soeharto.

AKBP Mangil Martowidjojo mungkin adalah perwira polisi yang paling disayang Soekarno. Perwira polisi ini adalah Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Bung Karno. Mangil mendampingi Soekarno mulai dari detik proklamasi, hijrah ke Yogyakarta hingga melindungi Soekarno dari ancaman granat dan penembakan. Tahun 1967, Mangil tak membiarkan konvoi Soekarno dihadang tentara RPKAD. Dia adu gertak dengan perwira RPKAD, sementara anak buahnya kokang senjata melindungi Soekarno.

Setelah peristiwa itu, Soeharto kemudian membubarkan DKP. Mangil pun terpaksa meninggalkan Soekarno.

»»  LANJUTKAN MEMBACA

Sabtu, 16 Maret 2013

Apa Sih Yang Menjadikan Musik Reggae Banyak Penggemarnya?

Musik reggae memang jarang sekali muncul di televisi dan radio. Namun, komunitas reggae bisa dikatakan yang paling besar di Indonesia. Lalu apa yang menjadikan musik ini banyak sekali penggemarnya?

Musik reggae adalah jenis musik yang santai dan enak untuk bergoyang. Dalam setiap pertunjukkan musik reggae, jarang sekali ditemukan adanya kerusuhan. Mereka juga selalu mengucapkan kata "peace" yang nyatanya memang membuat konser musik reggae selalu damai dan tertib.

Sebagai salah satu pelopor musik reggae di Indonesia, Tony Q Rastafara pun menjelaskan tentang fenomena reggae di Indonesia dan konser damai yang diciptakannya.

"Reggae secara umum adalah musik yang bisa buat goyang. Sebelumnya ada juga tapi biasanya senggol bacok. Di reggae itu adalah sebuah musik perjuangan yang secara kultur juga macthing dengan kondisi di Indonesia, mereka bisa seneng-seneng sekaligus bisa mencermati isinya," terang Tony saat berbincang di Jakarta belum lama.

Menurut Tony, orang-orang yang datang dan menyukai musik reggae adalah orang-orang yang cinta damai. Kebanyakan dari mereka juga datang untuk mencari pertemanan baru dibandingkan untuk mencari musik. Hal tersebutlah yang membuat musik reggae memiliki banyak penggemar dan komunitas di Indonesia.

"Mereka datang ke konser untuk mencari teman baru bukan musuh baru. Mereka datang ramai-ramai tapi enggak rusuh. Musik reggae adalah musik untuk berjuang tanpa harus pakai kekerasan," paparnya.
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Tony Q Rastafara [Hidup Saya untuk Reggae]

Musik reggae di Indonesia pasti identik dengan Tony Q. Musisi kelahiran Semarang, 50 tahun silam ini menyerahkan seluruh hidupnya untuk musik reggae.

"Sebenarnya, kalau memang kita suka bermusik dan tahu tujuan hidup kita dan senang melakukannnya tidak perlu ngoyo (memaksakan diri). Saya sudah menyerahkan hidup saya di reggae," ujar Tony saat berbincang dengan okezone di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta belum lama ini.

Tony memulai karier musik reggae sejak tahun 1989 dengan grup musik Roots Rock Reggae. Pada 1994, dia membentuk grup musik Rastafara yang cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik reggae di Indonesia saat itu. Bersama Rastafara dia sempat merilis dua album, yaitu 'Rambut Gimbal' dan 'Gue Falling In Love'.

"Saat ini, usia saya sudah 50 tahun. Saya mulai berkarier tahun 1989 dan sudah punya delapan album hingga saat ini. Apa ya, saya selalu senang berada di sini," tandasnya.

Pelantun Republik Sulap ini mengaku senang dengan perkembangan musik reggae di Indonesia sekarang. Misinya terhadap musik reggae sebenarnya sederhana, hanya ingin menyebarkan rasa kasih sayang antar sesama.

"Saya berharap musik reggae sebagai syiar. Saya ingin menyampaikan kalau kita semua punya spirit. Saya ingin musik reggae terus ada karena saya ingin selalu buat orang senyum dan cinta damai," tekadnya.
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Usain Bolt Ajak Para Pangeran Pesta Reggae

Usain Bolt menunjukkan kalau ia pantas disebut legenda hidup. Sprinter Jamaika itu memimpin rekan-rekannya merebut emas Olimpiade London nomor 4x100 m sekaligus memecahkan rekor dunia.

Kuartet Jamaika terdiri dari Nesta Carter, Michael Frater, Yohan Blake, dan Bolt mencatatkan waktu 36.84 detik pada final yang digelar di Olympic Stadium, London, Sabtu, 11 Agustus 2012. Rekor dunia sebelumnya adalah 37.04 detik yang juga milik keempat sprinter Jamaika itu yang tercipta di Daegu, Korea Selatan, tahun lalu.

Tim Jamaika memang terlalu tangguh bagi lawan-lawan mereka. Amerika Serikat yang diperkuat Trell Kimmons, Justin Gatlin, Tyson Gay, dan Ryan Bailey harus puas dengan perak. Catatan waktu 37.04 detik yang menyamai rekor dunia lama tak cukup bagus bagi AS untuk mengimbangi Jamaika.

Medali perunggu direbut Trinidad dan Tobago yang ketiban durian runtuh setelah Kanada didiskualifikasi karena salah satu pelarinya melanggar garis lintasan.

Usai merebut emas, Usain Bolt mengundang Pangeran Harry dan William untuk datang ke kampung halamannya.

"Saya ingin mengajak jalan-jalan Pangeran Harry dan William ke Jamaika. Yang saya maksud jalan-jalan bukanlah kunjungan resmi kerajaan. Saya ingin mengajak mereka berpesta. Minum rum dan Guinness sambil bergoyang reggae," kata Usain Bolt seperti dikutip Daily Star. Selama berada di London 2012, Usain Bolt merebut 3 emas. Dua lainnya dari nomor 100 m dan 200 m.

Beberapa bulan sebelum Olimpiade, Bolt dan Harry memang terlihat sangat akrab. Mereka beradu lari di lintasan. Saat itu Harry jadi pemenang dalam perlombaan main-main itu.

»»  LANJUTKAN MEMBACA

Sabtu, 09 Maret 2013

BOB MARLEY [Selebriti Yang Berpenghasilan Setelah Meninggal]

Bob Marley = Rp.70 milyar
Bob Marley adalah musisi yang menjadi ikon dalam musik reggae. Meskipun ia mati pada tahun 1981 tapi penjualan CD dan item-item yang berkaitan dengannya masih berjalan sampai sekarang.


sumber
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Reggae Masuk Aliran Musik Dunia

Musik, memang menjadi sarana hiburan untuk banyak kalangan agar mereka tidak jenuh terhadap, apa yang mereka kerjakan, tetapi juga musik dapat mengganggu kosentrasi seseorang, di Indonesia musik sudah menjadi sarana untuk menghasilkan uang, contoh saja di Indonesia sudah banyak sekali Grup-grup Band anak Muda yang muncul sebagai grup band terbaru, tetapi mereka selalu mempunyai aliran-aliran sendiri meskipun itu Pop, Rock, Punk atau yang lainnya, tetapi musik tetap sebagai sarana yang menghibur untuk para penikmatnya, inilah beberapa raja dari para aliran musik yang ada di dunia.

1. POP
 Siapa yang tidak tahu raja aliran musik POP, raja aliran musik POP ini adalah MJ (MICHAEL JACKSON), tetapi sayang dia sudah meninggal pada tahun 2009.

2. ROCK N' ROLL
Raja musik Rock N' Roll ini adalah ELVIS PRESLEY, orang yang berkewernegaraan Amerika.


3. REGGAE
Untuk musik Reggae, rajanya adalah BOB MARLEY


4.  Jazz
Raja Dari Musik Jazz adalah Oscar Peterson


5. DANGDUT
Ini adalah sebuah aliran musik yang paling di banggakan oleh masyarakat Indonesia, Raja Musik DANGDUT ini berasal dari Indonesia siapa lagi kalau bukan RHOMA IRAMA.




langsung liat aja nih di sini   
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Mas Anies [Salam Damai dariJogja Untuk Indonesia]

"Enam tahun sudah reformasi t`lah berlalu, Bumi Indonesia masih saja menyimpan bara api perseteruan yang seakan tak kunjung usai.
Bumi Aceh, Poso, Ambon, Papua masih juga bersimbah darah dan air mata.
Mereka itu, adalah bangsa sendiri.

Apakah ini akan menjadi dendam generasi, mewarisi tragedi Singosari?
Marilah dari bumi Mataram ini, kita serukan Salam Damai Dari Jogja Untuk Indonesia!, sebagai penanda penutupan festival ini 

 Akhir kata, Ya Tuhanku, Kumohonkan semogalah Bumi Indonesia bukan lagi tragedi!" Kalimat-kalimat di atas merupakan orasi budaya yang seharusnya dibacakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Namun karena berhalangan, maka orasi yang dibacakan di Alun-Alun Utara Yogyakarta Sabtu (31/07) malam, digantikan oleh Katon Bagaskara, Sawung Jabo dan Bambang Paningron. Acara ini merupakan titik klimaks dari rangkaian Festival Kesenian Yogyakarta XVI 2004 yang diselenggarakan selama sebulan penuh.

Dengan tema "Kesenian Sebagai Peredam Gejolak Bangsa", beberapa artis pendukung yang terlihat di atas panggung dalam memeriahkan event kali ini diantaranya Jogja Masanies dan penyanyi dangdut Vivin Vania. Pada konser tersebut berbagai band dan kelompok musik yang lahir di kota Jogja dari generasi yang beragam telah melakukan aksinya dengan spektakuler. Mulai dari Sandalaras Band, Mock Me Not, N-Cix`s Akustik Band, Spohie Band, Satoe Band, Seventeen Band, Cross Bottom, Kornchonk Chaos Band, Endank Sukamti hingga Shaggydog.

 Penataan panggung di Alun-Alun Utara yang menghadap ke arah utara tersebut semakin menarik dan penuh artistik karena mendapatkan beberapa sajian tari modern dan tradisional. Tak kalah menarik dengan penampilan sebelumnya, sebuah pertunjukan hiphop pleh komunitas Jogja Hiphopp Foundation. Pertunjukan tari yang lain berasal dari tari tradisional Aceh Saman Inong dan Didong Gayo, tari tradisional Papua Humbelo, tari tradisional Kalimantan Timur (Tari Dayak) Tari Gong dan tari tradisional bali Bala Ganjur.

Mencapai titik puncak acara, Katon Bagaskara, Sawung Jabo, dan Bambang Paningron membacakan orasi budaya yang merupakan rangkaian kata-kata yang diciptakan oleh Sri Sultan HB X sendiri. Dalam orasi budaya tersebut masyarakat diajak untuk menyeruakan suara perdamaian yang dimulai dari Jogja untuk Indonesia secara umum dan nasional. Sultan juga menyinggung sekian lama reformasi yang dilalui namun masih membutuhkan simbah darah untuk mencapai kedamaian di bumi Indonesia.

Sultan secara tegas mengguratkan kata-kata untuk mengatakan bahwa Indonesia yang tercipta oleh tangan Tuhan, dikumandangkan lewat Proklamasi 1945 ke lima benua dan dengan gagasan yang indah membangun masyarakat damai, adil dan makmur, kini masih juga menjadi titik api persetujuan, merintihkan suara kepedihan. Orasi Sultan semakin mengukuhkan peran Yogyakarta dalam kehidupan berbagai bangsa seperti peran dunia seni bagi masyarakatnya. Kehendak beliau menunjukkan sikap pemimpin masyarakat kota budaya yang menjadi salah satu pusat penting aktivitas kesenian di negeri ini.

»»  LANJUTKAN MEMBACA
Republik Sulap ~ Tony Q Rastafara Aku lahir di negeri sulap (negeri sulap) Aku besar di republik sulap (republik sulap) Negerinya pakar pesulap, suka menyulap apa saja Dari gak ada hingga di ada-ada, dari yang ada hingga tiada Bim salabim, bim salabim, abrakadabra, nggedebuzzz Bim salabim, bim salabim, abrakadabra Aku lahir di negeri sulap (negeri sulap) Aku besar di republik sulap (republik sulap Negerinya pakar pesulap, suka menyulap apa saja Dari gak ada hingga di ada-ada, dari yang ada hingga tiada Bim salabim, bim salabim, abrakadabra Bim salabim, bim salabim, abrakadabra, nggedebuzzz Bim salabim, bim salabim, abrakadabra Bim salabim, bim salabim, abrakadabra, nggedebuzzz
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Siapa Sih Mas Anies Itu..? Cekibrot..

Saya lahir di Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia.
Sejak saya masih muda, saya benar-benar suka musik. Saya selalu bernyanyi di ruang kelas, sebelum guru datang. Perilaku ini terus hingga saat ini. Beberapa waktu sebelum hippie datang ke Yogyakarta saya sudah membentuk band di kota saya. Sebenarnya, saya tidak ingat kapan persis itu. Kami digunakan untuk menutupi band termasuk The Beatles, The Rolling Stone, dll
Setelah saya bergabung dengan hippies kami bermain musik untuk beberapa waktu, itu lebih semacam improvisasi. Setiap kali kami datang bersama-sama, kami melakukan sebuah lagu baru, tidak selalu sebuah lagu dari orang lain.
Pada awal tahun 1977, saya pindah ke Jerman Barat, Eropa, dan tinggal sampai 1985. Saya menikah dengan seorang wanita Jerman, dengan siapa aku punya dua anak.
Saya terus melakukan musik dan, untuk memulai, bergabung dengan beberapa musisi lokal di Berlin Barat. Tapi tidak untuk waktu yang sangat lama, karena itu lebih dari jam session dari komitmen serius. Beberapa tahun kemudian kami pindah ke Jerman Selatan, dan tentu saja, saya bergabung dengan band lain lokal. Tapi aku menyadari, dengan musik saya tidak bisa mendapatkan uang untuk hidup. Sambil terus hidup saya dan pekerjaan saya mulai berpikir tentang menulis lagu sendiri. Itulah yang telah saya lakukan sejak saat itu. Musik menjadi bagian dari hidup saya. Nah, ketika saya tidak bermain musik, saya suka melukis juga. Hanya untuk menjaga hidup saya seimbang.
Pada tahun 1985, saya kembali ke Indonesia, untuk selamanya. Saya pindah ke Bali dan mulai bermain dengan musisi lokal di beberapa Kafe di Kuta dan Legian. Pertama hanya untuk bersenang-senang. Setelah beberapa saat itu menjadi serius, dan kami dilakukan di pihak swasta, pada pihak bulan bodoh di Bali, dll
Kembali ke kota asal saya Yogyakarta, saya terus bermain musik dengan teman saya.
Pada tahun 1986 saya tinggal selama satu bulan di Jamaika di mana musik reggae adalah all-around, sejak saat itu reggae adalah musik yang saya sukai.
Kembali di Yogyakarta, saya mengambil bagian dalam sebuah band reggae dengan siapa saya telah membuat beberapa lagu. Sementara tinggal di Bali, seorang pria lokal dan saya membuat beberapa jam session, dan saya bertemu dengan seorang pria dari Jamaika, yang memainkan drum dan perkusi.
Pada tahun 1994 beberapa musisi dari Jakarta meminta saya untuk bergabung dengan band mereka bernama Akar Asia. Kami bermain di sekitar Jakarta dan Bandung, dilakukan beberapa kali di acara TV, dan direkam di studio di Jakarta. Tapi aku sudah menyimpan materi karena saya tidak menemukan label.
Sampai 2003 saya pergi dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Setelah beberapa saat aku menyadari bahwa aku harus menghasilkan musik saya sendiri, karena semua lagu saya mendapatkan banyak untuk tetap.
Ketika produksi Blass memberi saya kesempatan, saya senang melakukannya. Saya melakukan perjalanan ke Yogyakarta untuk melakukan rekaman, dan untuk beberapa waktu kembali ke Jakarta untuk bermain.
Pada tahun 2003, dengan bantuan produksi Blass, kami merilis album "Yang Bagus Akan Datang", yang kami produksi pada kaset, bukan pada CD belum.
Saat ini, saya sedang bekerja pada album kedua saya sebagai jawaban atas permintaan dari beberapa orang. Sebenarnya, saya sudah membuat album dalam waktu sebelum "Yang Akan Datang Bagus", ketika saya direkam dengan Roots Asia di Jakarta.
Jadi wish me luck.


Sumber
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Ray D'Sky [Islands Of Dreams]

Gigs Preview
 
Sukses memperkenalkan album barunya Dreaming Dreams di Gili Trawangan bulan Oktober 2012, Ray D’Sky akan menyapa penggemarnya pada launching album tersebut di Jakarta tanggal 15 Januari lalu. Pertunjukan yang bernama Island of Dreams ini bertempat di Score! Jakarta. Dibuka oleh Bunga, Ray D’ Sky akan berkolaborasi bersama Syaharani (ESQI:EF), Ipang Lazuardi, Ras Muhamad, Joe Mellow [...]

Bonus:
Tak Perlu Sempurna Download
Angel Download
Compassion Download
The Song Download
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Mengenal Lebih Dekat Ray D'Sky

Kota Asal
Jakarta

Perusahaan Rekaman
demajors Independent Music Industry (dIMI)

Biografi
Proyek ini pertama kali lahir beberapa tahun lalu, ketika Aray sedang dalam proses mengubah jalan hidupnya ke arah yang lebih nyaman. Bongky memberinya inspirasi pertamanya untuk gaya musik. Bersama-sama, Aray dan Didit, gitaris dari band sebelumnya Plastik Aray, mulai merekam album ini.

Pada tahun 2007, Aray mulai sesi rekaman yang akan menjadi catatan debutnya berjudul 'Dirilis oleh Reality' (demajors, 2009), maka Aray meminta Didit untuk meletakkan beberapa pekerjaan gitar di trek. Setelah undangan untukmelanjutkan perekaman hari berikutnya, Aray bertemu di studio dengan teman-teman Iwan, keyboardist & perkusi lama dan Aci drummer. Keduanya juga anggota band & Coconuttreez Steven. Sesi ini akan menelurkan tidak hanya'Kasih' lagu, tetapi kerangka kerja untuk Ray D'Sky.

Seperti Aray juga merupakan anggota dari Steven & Coconuttreez, dan para pemain lainnya semuanya telah terlibat dengan band mereka sendiri, proyek ini telah bekerja dan membuahkan kemajuan.

Pada musim panas tahun 2008, kesempatan datang untuk kelima anggota berbakat unik untuk menyatukan kembali di studio dan menggali lebih dalam bakat yang lahir selama 'Dirilis oleh Reality' sesi rekaman. Itu segera jelas bahwa naluri mereka benar, sebagai catatan dengan cepat mulai mengambil bentuk.

Pada bulan Mei 2009, band ini memulai debutnya dengan materi baru mereka dalam konser Malam Black Hole (gerakan independen lokal), di mana mereka juga meniupkan kehidupan baru ke Bob Dylan / Jack Johnson klasik 'Aku Akan menjadi Dirilis', yang sejak itu telah menjadi pokok dari kehidupan mereka. Band ini dijadwalkan untuk tur ekstensif di seluruh Indonesia pada 2010.

Ini kelompok yang unik musisi kami telah mengumpulkan akan menandai sinar cahaya di industri musik, karena itu kami telah memilih nama dari proyek ini menjadi Ray D'Sky. 

Lokasi Sekarang
Jakarta, Indonesia

Manajer Umum
Teby Wibowo - +62 857 18 3333 08
Agen Pemesanan
+62 857 18 3333 08 email : wibowoteby@gmail.com

Hubungan Media
+62 857 18 3333 08 info@raydsky.com

Artis yang Kami Juga Sukai
Jack Johnson, Iwan Fals, & Ben Harper

Pengaruh
Bob Marley, Bob Dylan, & Rolling Stones

Minat Band
beach, reggae, sunset, jazz, wine, folk, art, chill out and green living.
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Rabu, 26 Desember 2012

Alpha Blondy?? Penasaran?? Masuk aja...

  Alpha Blondy (lahir 1 Januari 1953) merupakan penyanyi reggae Pantai Gading dan artis rekaman internasional. Alpha Blondy lahir Seydou Kone di Dimbokro, Pantai Gading. Dia bernyanyi terutama dalam bahasa asli nya Dioula, dalam bahasa Prancis dan Inggris, dan kadang-kadang dalam bahasa Arab atau Ibrani. lyrics-Nya menyampaikan sikap politik yang serius dan rasa humor. Secara khusus, ia menciptakan istilah democrature Perancis (yang setara bahasa Inggris adalah “democratatorship”) untuk mengidentifikasi beberapa pemerintah Afrika.

Seydou Kone – lebih dikenal untuk penggemar musik sebagai Alpha Blondy – lahir di Dimbrokro, Pantai Gading, pada 1 Januari 1953. Young Seydou dibesarkan oleh neneknya, Cherie Coco, yang mencurahkan kepedulian dan perhatian pada cucu dihargai nya. Tapi ini tidak selalu memiliki hasil yang diinginkan. Memang, Seydou diusir dari perguruan tinggi pada tahun 1972 dan pemberontak remaja dikirim ke tetangga Liberia untuk menyelesaikan studinya di sebuah sekolah di ibukota, Monrovia. Langkah ini membuka cakrawala baru bagi Seydou muda. Bahasa resmi Liberia menjadi bahasa Inggris, itu juga berarti bahwa Seydou membuat kemajuan besar dalam bahasa ia mulai belajar di sekolah di Pantai Gading. Setelah menyelesaikan sekolah di Liberia, Seydou demikian sempurna dilengkapi dengan baik untuk pindah ke New York dan melanjutkan studi bahasa Inggris di Big Apple.
 
Selain menyempurnakan bahasa Inggris di New York, Seydou mulai mengambil suatu kepentingan bergairah dalam dunia musik. Dan satu konser khusus di New York adalah untuk memiliki pengaruh besar pada sisa karirnya – pada tahun 1977 Seydou menghadiri kinerja oleh kelompok Burning Tombak legendaris Jamaika dan menemukan dunia indah reggae. Terinspirasi oleh irama menjuluki kuat ia mendengar malam itu, Seydou mulai bernyanyi dengan berbagai kelompok-kelompok lokal. Tetapi ambisi utamanya adalah untuk merekam album sendiri dan memulai karir solo.
 
Mimpi ini hampir terwujud saat Seydou bertemu dengan produser rekaman terkenal Clive Hunt dan pasangan mulai membahas kemungkinan kerjasama. Sayangnya, Hunt keluar dari proyek di menit terakhir dan Seydou Kone dibiarkan tinggi dan kering tanpa kontrak rekaman. Ini awal kekecewaan dikirim spiral muda Seydou menjadi depresi besar dan ia segera meninggalkan New York, kembali ke Pantai nya asli d’Ivoire dan menyiapkan rumah di ibukota, Abidjan.
Seydou mengalami gangguan saraf tak lama setelah ia kembali ke Abidjan dan penyanyi muda menghabiskan dua tahun berikutnya pulih di sebuah rumah sakit jiwa. Untungnya, musik Seydou membantunya melalui masa krisis pribadi dan ketika ia menandatangani sendiri keluar dari rumah sakit dia kembali ke karir bernyanyi.
Album debut
Ketika Seydou meluncurkan kembali karir bernyanyi di 80-an ia melakukannya dengan nama panggung baru, Alpha Blondy (pun pada “bandit” – kata diucapkan “bondee” dalam bahasa Perancis!). Seydou / Alpha mendapat istirahat pertama utamanya tak lama setelah ia kembali ke dunia musik ketika ia ‘ditemukan’ oleh produser televisi terkenal Fulgence Kassy. Terkesan dengan bakat jelas penyanyi muda, Kassy Blondy diundang untuk tampil di acara TV-nya “kebetulan Première” – dan sisanya adalah sejarah musik!
Setelah penampilannya di TV nasional, Blondy segera melanjutkan untuk mencapai impiannya untuk rekaman album solo. Dan ketika dirilis pada tahun 1983 Blondy’s debut album, terbukti “Jah Glory”, untuk menjadi sukses sejati. Salah satu trek yang paling menonjol di album ini tidak diragukan lagi “Brigadir Sabari”. (Sung dalam bahasa ibu Blondy’s, Dioula, lagu ini terinspirasi oleh serangan polisi penyanyi menyaksikan kekerasan di Pantai Gading).
 
Blondy segera menjadi bintang besar di kancah musik Abidjan, membuktikan bahwa reggae – yang telah sekian lama dianggap sebagai suara biasanya Jamaika – bisa berhasil ditafsirkan kembali dalam gaya Pantai Gading. catchy beats Blondy’s reggae menjadi semua kemarahan di Abidjan, dan penggemar musik remaja di distrik pusat kota terjadi ibukota segera mengadopsi Blondy sebagai versi nasional mereka sendiri Bob Marley. Dengan sikap suka memberontak, kepribadian bersemangat dan pasokan rupanya tak ada habisnya energi saraf, Alpha Blondy tentu membuat dampak yang besar di kancah musik Afrika Barat. Menyanyi dalam bahasa Perancis dan Inggris serta Baoulé dan nya Dioula asli, Blondy segera melanjutkan untuk menyebabkan utama aduk di kancah musik Eropa juga.
 
Memang, empat lagu Blondy’s EP “Rasta poué” mencetak hit besar di Eropa, mendorong penyanyi untuk meninggalkan tanah airnya untuk kedua kalinya dan mencoba keberuntungannya di luar negeri lagi. Blondy pindah ke Paris pada tahun 1984, di mana ia segera melanjutkan dengan menandatangani kontrak rekaman dengan Pathé-Marconi (EMI). Bintang Pantai Gading kemudian rekaman album kedua, “Cocody Rock”, di Paris, melompat menyeberangi Channel studio di London untuk mengawasi pencampuran akhir album. Terlebih lagi, status Blondy’s sebagai Bob Marley Pantai Gading menerima semacam konfirmasi resmi, ketika penyanyi terbang ke Kingston untuk mencatat judul lagu dari album barunya dengan kelompok dukungan mantan Marley The Wailers.
 
Setelah peluncuran “Cocody Rock”, Blondy memulai pada jadwal tur sibuk, melakukan secara luas di seluruh Afrika Barat. energi tinggi penyanyi ini menunjukkan terbukti sukses besar, ratusan penggemar reggae remaja kemasan luar stadion di seluruh wilayah untuk alur untuk memimpin manusia Pantai Gading-reggae.
Ketika Blondy kembali ke Pantai Gading setelah ini tur melelahkan, ia langsung kembali ke studio untuk mulai bekerja pada sebuah album baru berjudul “Apartheid adalah Nazisme”. Blondy’s album ketiga, yang dirilis pada tahun 1985, adalah lagu kebangsaan militan yang menuntut mengakhiri apartheid dan kebebasan untuk semua. “Apartheid adalah Nazisme” juga menampilkan sejumlah menjuluki lebih lembut trek seperti “Yesus datang kembali” – yang ditemukan Blondy menjajaki vena mistik baru!
1986: “Yerusalem”
 
Blondy lanjutan mistik pendekatan baru pada album keempatnya “Yerusalem”, yang dirilis pada tahun berikutnya. Direkam di studio legendaris Tuff Gong di Jamaika dengan kelompok dukungan mantan Bob Marley The Wailers, “Yerusalem” dipromosikan pesan baru Blondy tentang kesatuan agama. Lagu-lagu di album baru Blondy’s meneliti ajaran Islam, Yudaisme dan Kristen, menggambar inspirasi dari Taurat dan Quran serta Alkitab. Bintang Pantai Gading juga mulai berkhotbah filosofi barunya persatuan agama di panggung – dan ketika Blondy dilakukan di Maroko pada Juli 86 ia memilih untuk menyanyikan lirik Ibrani dari lagu “Jerusalem” kepada audiens Muslim. Beberapa kritikus menganggap ini sebagai tindakan provokasi terbuka, tetapi Blondy melihat dirinya sebagai seorang pria di sebuah misi pribadi untuk mengembalikan keharmonisan beragama di dunia!
 
Pada musim semi 87 Blondy dan kelompoknya Tata Surya memulai tur utama Perancis, menendang dari putaran sibuk konser di Le Zenith di Paris (pada 6 Maret dan 7). Blondy dan Tata Surya kemudian menuju ke Antilles Prancis untuk melakukan serangkaian konser di Martinique dan Guadeloupe. Pantai Gading Reggae Raja kemudian akibat melakukan tur Eropa yang luas – tetapi ini harus dibatalkan pada menit terakhir. NRJ, stasiun radio independen Perancis yang bertugas mengatur tur Eropa Blondy’s, menyalahkan pembatalan pada “perilaku tidak profesional” si penyanyi. NRJ lakukan tampaknya telah dibenarkan dalam keluhan mereka – perilaku Blondy selama periode ini terkenal tidak menentu untuk sedikitnya. Memang, penyanyi yang sering akan membuat para penggemarnya menunggu hingga dua jam sebelum terlambat naik ke panggung!
 
Blondy, yang telah menjadi bintang besar di Afrika Barat oleh tahap karirnya, segera mulai bereksperimen dengan gaya musik baru. Gaya baru ini banyak bukti di album baru bintang Pantai Gading itu “revolusi”, yang dicatat di Paris pada tahun 1987. “Revolusi” ditemukan Blondy mengeksplorasi suara yang lebih mellow, biola beradaptasi dan cello untuk reggae biasa bertempat mengalahkan pada lagu “Sweet Fanta Diallo”. Album ini juga termasuk duet balada lambat (“Miri”) yang Blondy direkam dengan diva legendaris Aicha Pantai Gading Kone.
 
Tapi salah satu trek yang paling menonjol pada “revolusi” – paling tidak dalam hal nilai kebaruan! – Adalah “Jah Houphouët Parle” (Jah Houphouët Speaks). lagu ini persis apa judul dijelaskan – yaitu 10 menit 37 detik dari pidato oleh presiden Pantai Gading-an tercatat lebih dari beat reggae samar-samar. Ini penghargaan untuk Houphouët-Boigny mengambil praktis dua pertiga dari sisi pertama dari album baru Blondy’s! Dan kritikus tidak ragu-ragu untuk menyerang penyanyi untuk itu. Tapi Blondy tetap dingin dalam menghadapi kritik, membela haknya untuk mengekspresikan pandangan politik sendiri.
 
1988 turun ke awal yang buruk bagi Blondy dengan yang lain serangkaian konser di Paris (di Le Zenith) dibatalkan. Bintang reggae segera bangkit kembali, bagaimanapun, terbang ke Amerika Serikat di mana ia melakukan tur 2 bulan sukses. Tahun berikutnya Blondy menyerah basis di Paris dan kembali ke Abidjan. Tak perlu dikatakan, Blondy kembali ke tanah airnya menyebabkan benar-benar aduk di kancah musik Pantai Gading. Apa lagi, reggae terkemuka Pantai Gading-orang kembali hadiah rumah bantalan – dalam bentuk album barunya “Para nabi”. Blondy, yang menganggap bahwa catatan perusahaannya Pathé Marconi adalah mengabaikan pasar Afrika, telah memutuskan untuk mengambil masalah di tangan dan menjamin promosi album barunya sendiri. Setelah menulis, merekam dan memproduksi “Para nabi” semua sendiri, Blondy juga memutuskan untuk bertanggung jawab atas manajemen sendiri mulai sekarang!
 
Pada akhir 89 Blondy berangkat tur lain utama dengan grupnya Tata Surya, melakukan jumlah yang mengesankan tanggal di seluruh Afrika Barat. Penyanyi kemudian mulai bekerja pada sebuah album baru berjudul “SOS tribale Guerre” (SOS Tribal War). Namun album, direkam di studio 8-track sederhana di Abidjan, adalah tidak sukses secara komersial besar di luar Pantai Gading.
1991: “Masada”
 
Namun, Blondy akan segera pergi penembakan kembali ke puncak tangga lagu Eropa. reggae Afrika “enfant mengerikan” kembali ke Paris pada Desember 91, melakukan tiga sangat populer menunjukkan di Elysee-Montmartre yang bertepatan dengan peluncuran album baru berjudul “Masada”. Ini album baru yang sangat baik menampilkan pengaturan oleh Boncaïna Maïga. Dan Denis Bovell (terkenal karena karyanya dengan pangkat penyair legendaris Kwesi Linton Johnson) bertanggung jawab untuk campuran akhir. Tak pelak, Blondy baru tunggal “Rendez-vous” segera terbukti hit besar dan itu datang tidak mengejutkan kepada siapapun ketika penjualan album “Masada” juga meroket, produktif Blondy disk emas pertamanya. Karir dari “rastafoulosophe” (“Rasta-filsuf” sebagai Blondy suka untuk menggambarkan dirinya sendiri) sudah bangun dan berjalan lagi dan tidak ada kesalahan! Riding gelombang keberhasilannya baru-ditemukan, Blondy menggebrak tur Eropa yang luas, finishing sampai dengan konser kemenangan di Le Zenith di Paris.
Namun jadwal tur melelahkan Blondy segera mulai mengambil korban pada saraf rapuh si penyanyi. Setelah menyelesaikan tur Eropa, bintang reggae berputar ke lain depresi besar. Dan pada awal 93 Blondy mengalami kerusakan lain yang menyebabkan dia mencoba bunuh diri.
 
Untungnya, Blondy segera pulih dari kehancuran gugup nya. Memang, bintang reggae Afrika kembali ke garis depan kancah musik di akhir tahun itu dengan sebuah album baru berjudul “Dieu” (Tuhan). Seperti judulnya, album baru Blondy terbukti lebih mistis daripada sebelumnya. Bergabung di studio oleh sekelompok musisi kelas satu, Blondy dipercepat rock reggae tradisional mengalahkan, meluncurkan ke berbagai isu-isu kontroversial pada lagu seperti “Aborsi adalah Kejahatan”. Penyanyi itu juga menyatakan perasaan pribadinya di jalur yang bergerak “Sembuhkanlah Me”.
 
Sayangnya, tak seorang pun muncul untuk dapat melakukannya. masalah mental Blondy terus untuk melampiaskan malapetaka di kehidupan pribadinya, menyebabkan dia kembali ke rumah sakit jiwa untuk perawatan lebih beberapa. Tetapi pada akhir 94 Blondy kembali di garis depan dunia musik. Memang pada tanggal 10 Desember tahun itu penyanyi yang dilakukan di Abidjan di sebuah festival musik yang diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun pertama kematian Presiden Houphouët-Boigny’s. Beberapa hari kemudian Blondy terbang ke Paris, membuat comeback mengesankan di Le Zenith (pada tanggal 29 Desember).
Pada tahun 1996 Blondy kembali dalam grafik sekali lagi dengan “Best of” album kompilasi. Bintang reggae juga kembali ke studio akhir tahun itu untuk mulai bekerja pada sebuah album baru berjudul “Grand Bassam-Sion Rock” (Boncana Maïga bergabung dengannya untuk melihat setelah aransemen musik). Dirilis pada Juni 96, album baru Blondy mengungkapkan penyanyi untuk menjadi poliglot benar – “Grand Bassam-Sion Rock” menampilkan lagu-lagu direkam dalam bahasa Arab, Malinke, Perancis, Inggris, Wolof dan Ashanti! album baru Blondy’s – perpaduan kaya reggae, rock dan funk – juga termasuk versi cover inovatif dari Bob Marley “Natural Mystic”.
 
1998: “Rabin Ytzah”
Setelah lama meninggalkan catatannya perusahaan EMI, Blondy kembali muncul di dunia musik Pantai Gading pada tahun 1998 dengan merilis album kaset berjudul “Ytzah Rabin” (judul adalah pun simbolik pada nama dibunuh Perdana Menteri Israel Itzhak Rabin) . lagu baru Blondy terbukti lebih keras memukul dari sebelumnya, trek seperti “Armée française” (Tentara Perancis) dan “Guerre civile” (Civil War) mengambil sikap tegas anti kemapanan. penggemar Blondy mungkin menghargai lirik radikal bintang reggae baru, namun politisi terkemuka Pantai Gading jelas tidak. Blondy album CD baru dirilis pada bulan September pada Une Musique (label milik stasiun televisi Prancis TF1). “New Dawn”, sebuah lagu direkam dalam bahasa Inggris, dipilih sebagai rilis single pertama.
 
Pada tanggal 25 dan 26 Desember 1998, penyanyi menyelenggarakan “Festa 98″ di Grand Bassam, dekat Abidjan. Festival, yang menarik berubah besar-out (hampir 200.000 penggemar musik), berakhir dengan konser oleh Alpha Blondy sendiri, tiba di atas panggung jam 6 pagi.
 
Blondy melakukan tur baru yang luas untuk mempromosikan “Yitzhak Rabin” di Eropa. Meskipun memutar pergelangan kaki di panggung selama konser pertamanya di Perancis, penyanyi menghormati tanggal yang tersisa dalam tur, tidak ingin mengecewakan fans Perancis. Pada tanggal 13 Maret 1999, Blondy membawa rumah turun di Le Zenith di Paris, dengan kinerja yang mengejutkan yang berlangsung selama tiga jam.
Satu hal yang pasti – Alpha Blondy, Côte d’Ivoire’s Raja yang tak perlu dari reggae, tetap menjadi sosok yang sangat ambigu di dunia musik Afrika. Penyanyi itu tidak hanya dikritik karena lampiran yang berlebihan kepada Presiden Houphouët akhir-Boigny, namun kehidupan pribadinya juga telah membuktikan terkenal tidak menentu dan tidak stabil (Blondy telah beberapa kali menikah dan memiliki empat anak perempuan dan dua anak oleh ibu yang berbeda). Namun, jika Blondy memiliki kritik, ia juga memiliki ribuan penggemar setia siap untuk musim semi untuk pembelaannya. Dan tidak ada yang bisa menyangkal bahwa bintang berwarna-warni secara signifikan telah meningkatkan profil Afrika reggae!
 
Blondy kemudian melanjutkan untuk menebus masa lalu ambigu politiknya, bagaimanapun, rekaman lagu serangkaian protes di mana ia mengambil berbagai penyebab termasuk kebebasan pers Afrika. Pada akhir November ’99 bintang reggae merilis sebuah single keras memukul berjudul “Journalistes en bahaya” (lagu yang ditulis oleh “Reporters Sans Frontières” Perancis asosiasi) dari mana ia menyumbangkan semua keuntungan untuk wartawan Afrika yang telah dipenjara untuk pandangan politik mereka.
Allah
 
Bahkan, single ini muncul di album baru Blondy’s, “Elohim” (kata Ibrani yang berarti “Tuhan” atau “Saya orang banyak”). Album ini dirilis di Afrika pada akhir ’99 dan tiba di toko musik Perancis pada bulan Februari 2000. Beberapa trek yang lain pada “Elohim” ditulis dalam vena marah sama, Blondy melampiaskan kemarahan di politik, korupsi penyalahgunaan dan kemiskinan di tanah airnya (cf “Les voleurs de la République”, “Dictature” dan “La antrian du Diable”) . Sebagai span Pantai Gading ke dalam krisis politik pada awal 2000, Blondy mulai memainkan peran yang semakin tinggi profil mengambil bagian dalam debat publik tentang masa depan negara dan berbicara keluar pada beberapa isu-isu kunci.
Hanya dua tahun kemudian Maret 2002 yang Blondy mengeluarkan album berikutnya. Berjudul “Merci”, yang karya baru merayakan tahun kedua puluh seniman di bisnis musik. Pada konferensi pers peluncuran album diadakan di Abidjan, Pantai Gading, yang Reggaeman menyatakan: “Saya ingin berterima kasih kepada Tuhan dan semua orang yang telah memberikan kontribusi bahkan jauh untuk karir saya (…) Saya juga ingin berterima kasih kepada musuh-musuhku Karena kritik mereka dan kepalsuan mereka telah memungkinkan saya untuk memperbaiki. ” (AFP 12/03/02). Seperti politik seperti biasa, album ini menampilkan dua lagu, “Politruc” dan “Feu” yang memberikan kritik politik yang serius. Ini juga termasuk sebuah pamflet terhadap ranjau anti-personil, co-sung dengan Ophélie Winter dan berhak “Siapa kau?”. Band Rap Saïan Supa Crew berkolaborasi untuk judul yang lain, “Wari”.
 
Alpha Blondy menggebrak tur Perancis baru pada bulan Mei 2002, muncul di Olympia, di Paris, pada tanggal 15 Mei. Pada akhir Agustus, reggaeman Pantai Gading terbang ke Amerika Serikat dan Amerika Latin (di mana dia memiliki status sebagai salah satu tokoh besar dunia reggae internasional). Merayakan dua puluh tahun karirnya, penyanyi yang memulai pada tur-mega pada bulan November 2002, bermain di semua tempat stadion utama di seluruh Afrika. Namun, gangguan politik kembali ke rumah di Pantai Gading mengganggu organisasi tertentu dan tanggal konser beberapa harus dibatalkan. (The Blondy konser itu untuk dilaksanakan di ibukota Burkina Faso Ouagadougou dibatalkan menyusul adanya pelarangan oleh Menteri Dalam Negeri).
 
Pada tanggal 23 Februari 2003, Alpha Blondy dinominasikan untuk Grammy Award (untuk Best Reggae Album of the Year) dan diundang untuk upacara penghargaan di New York. Tapi bintang Pantai Gading reggae adalah pipped di pos oleh Lee Scratch Perry.
Belakangan tahun itu, reggae UB40 bintang Inggris Blondy diundang ke studio dengan mereka untuk duet pada “Young Guns” (lagu yang termasuk pada versi Perancis dari album “Homegrown”).
Kembali di Jalan
 
Pada akhir tahun 2003, Alpha Blondy terbang ke Brasil (sebuah negara di mana ia tetap sangat populer). Penyanyi itu kembali ke Brasil pada awal 2004 untuk dua tanggal ekstra dan juga tampil di Argentina. Setelah itu ke Dakar (di mana ia tidak dilakukan selama bertahun-tahun) dan La Réunion.
Pada musim panas tahun 2004, Alpha Blondy mengalami kecelakaan lain, patahan fibula ketika ia terjatuh dari panggung pada akhir konser di Perancis pada bulan Juli. Meskipun memiliki kakinya di plester, penyanyi memanjat kembali di atas panggung pada kruk seminggu kemudian di Belgia, kemudian ditekan pada konser di Brazil dan Argentina. Pada akhir tahun itu, Blondy juga melakukan seri baru tanggal di Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Senegal dan Gambia.
 
Blondy dijalankan pada kecepatan yang sibuk sama tahun 2005, terbang bolak-balik melintasi dunia untuk tanggal internasional. Setelah tur mini dari Amerika Serikat, bintang reggae Pantai Gading pindah ke Australia dan Selandia Baru. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya ke Portugal, Mauritius dan La Réunion.
Pada bulan Juni 2005, sebuah kompilasi Alpha Blondy, berjudul “Akwaba”, tekan toko kaset. Album ini tidak benar-benar fitur apapun lagu baru, tapi tidak mencakup versi baru dari beberapa hits yang terbesar rerecorded dengan artis-artis tamu, seperti Neg’marrons, Magic Sistem dan Mokobe (dari pakaian rap Perancis 113). Pada tanggal 2 Juli 2005, di tengah-tengah tur Eropa, Alpha Blondy muncul di “Live 8″ (versi Perancis konser Bob Geldof’s penggalangan dana) dipentaskan di halaman Château de Versailles. Sepuluh tanggal diikuti di Amerika Serikat, kali ini, sebagian besar di Pantai Barat dan di Hawaii. Pada bulan Agustus, Blondy pindah ke Meksiko dan Puerto Rico. Pada tanggal 4 September 2005, Alpha Blondy dan tata surya dilakukan di Teluk tahunan 10 Monterey Reggaefest, di California.
Pada tanggal 21 September 2005, reggaeman Pantai Gading menjadi Messenger Perdamaian PBB di Pantai Gading.
 
Alpha Blondy terus melakukan konser di seluruh dunia sepanjang tahun 2006. Sementara itu, ia juga terus jadwal kampanye sibuk, pertemuan para pemimpin politik di Pantai Gading serta kepala negara dari negara-negara tetangga. Pada tahun 2007, setelah menghentikan off di tiga tujuan yang berbeda di Hindia Barat Prancis, reggaeman Pantai Gading terbang ke Haiti untuk memainkan dua konser di sana pada bulan Maret (sebagai bagian dari festival de Quinzaine La Francophonie ‘). Dia menggunakan kesempatan ini untuk membuat daya tarik publik terhadap kekerasan.
2007: “Kemenangan Jah”
 
Pada bulan November 2007, Alpha Blondy memecah keheningan lima tahun diperpanjang di bagian depan rekaman, merilis album baru berjudul “Kemenangan Jah.” Bintang Pantai Gading telah bersumpah bahwa ia tidak akan membuat album lain asalkan ada perang di tanah airnya. Dan, benar firman-Nya, Alpha Blondy telah menunggu untuk perjanjian-perjanjian perdamaian yang akan ditandatangani di Ouagadougou dan kembali ke tenang relatif di Pantai Gading sebelum kembali ke studio.
Alpha Blondy diproduksi “Kemenangan Jah” dengan uluran tangan dari Tyrone Downie (salah satu mantan Wailers Bob Marley) yang juga guested sebagai keyboard player dan programmer musik. Album ini juga menampilkan duo reggae legendaris Jamaika Sly & Robbie pada drum dan bass. “Jah Kemenangan” berkisar sembilan belas lagu, dilakukan di Perancis, Inggris dan Dioula dan nada itu radikal hardhitting, terutama pada trek seperti “Mister Grande gueule”, “Les Salauds” dan “Penjualan racistes.” Namun, di lain waktu “Jah Kemenangan” itu diresapi dengan optimisme biasa Blondy dan mistisisme. Album ini juga menampilkan beberapa kejutan musik termasuk cover inovatif dari klasik Pink Floyd “Wish You Were Here” (lengkap dengan selingan bagpipe), sebuah bagian akordeon tentang “Gban Gban” dan suara gitar rock dan bom meledak di “Les Salauds. “
Alpha Blondy menggebrak nya “Jah Kemenangan” tur di Angola pada bulan Oktober 2007 dan melanjutkan untuk memainkan serangkaian tanggal internasional di Perancis (termasuk konser di Zenith Paris pada tanggal 16 November), Belanda, Jerman dan Italia.
Musim dingin tahun 2007 menampilkan tanggal penting dalam karir Alpha Blondy, para reggaeman kembali ke tampil di Pantai Gading untuk pertama kalinya dalam enam tahun. Pada tanggal 30 Desember, bintang Pantai Gading turun ke panggung di Yerusalem Espace, di Grand-Bassam, headlining di festival Festa – yang, tahun itu, telah secara khusus berganti nama menjadi ‘festival Festarrr’ (3 Rs berdiri untuk Rekonsiliasi, Reunifikasi dan Rekonstruksi).
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Senin, 24 Desember 2012

Buku 'Negeri Pelangi' Ras Muhammad Membedah Musik Reggae

Penyanyi dan Duta Reggae Indonesia, Ras Muhammad akan meluncurkan buku Negeri Pelangi yang mengisahkan refleksi perjalanannya selama mencari akar musik reggae di Ethiopia.

"Banyak orang yang mengira bahwa warna rasta (hijau, kuning, merah) yang identik dengan musik reggae adalah warna dari Jamaika, ternyata itu adalah warna bendera Ethiopia," katanya.

Ras Muhammad menjelaskan semua penelusurannya dalam buku Negeri Pelangi yang diluncurkan pada Februari 2013.

Dalam pencarian akar musik reggae yang dilakukan dengan mengunjungi Ethiopia itu, ditemukan banyak kenyataan berbeda dari yang selama ini diidentikan dengan musik reggae.

"Biasanya reggae dianggap negatif karena identik dengan narkoba, tetapi tidak demikian adanya. Nanti, peluncuran buku itu bersamaan dengan salah satu single saya," katanya sambil merahasiakan judul album single itu.

Tidak hanya itu, ia juga akan merilis album internasional pertamanya pada Mei 2013 di bawah bendera Oness, label rekaman Jerman.

"Itu adalah album internasional pertama saya yang berada di bawah major label, judulnya masih rahasia, tunggu saja tahun depan akan segera dirilis," ucapnya usai konser musik bertajuk Maluku Night - Drug Free yang diselenggarakan Badan Narkotika Nasional (BNN) Maluku, Minggu (25/11).

Jauh-jauh datang ke Ambon, penyanyi yang memiliki nama asli Muhammad Edgar tersebut, tampil maksimal di pertunjukan musik Maluku Night - Drug Free itu. Dia membawakan belasan lagu, di antaranya One Love, Jamming, No Wowen No Cry yang dipopulerkan oleh Bob Marley, dan Kugadaikan Cintaku milik penyanyi legendaris Gombloh.
 
Ratusan penonton yang memadati Lapangan Merdeka Ambon, berjingkrak-jingkrak mengikuti setiap alunan lagu dari musisi yang telah memulai karirnya sejak tahun 2005 dengan meluncurkan album indie bertajuk Declaration Of Truth di New York, Amerika Serikat.

"Ini pertama kali saya ke Ambon, selain daerahnya indah, orangnya juga ramah-ramah," katanya di tengah-tengah konsernya.

Ras Muhammad telah meluncurkan sedikitnya tiga album, yakni Declaration Of Truth, Reggae Ambasador, dan Next Chapter. Dua di antara albumnya direkam secara indie.
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Minggu, 09 Desember 2012

Tony Q Rastafara Rillis Album Lewat Gelang FlashDisk


Inovatif, itulah kata yang tepat untuk album kesembilan dedengkot reggae Indonesia, Tony Q Rastafara. Pasalnya di album berjudul MEMBENTANG SAYAP itu Tony Q tidak menggunakan media Compact Disk (CD) melainkan USB yang berbentuk gelang.
Menurut Tony, album dalam bentuk gelang USB bisa menjadi fashion bagi anak muda. Dengan bandrol 110 ribu rupiah, Manteman (fans Tony Q) bisa memiliki album yang berisi 9 lagu dan 3 video klip hasil dokumentasi manggung Tony di beberapa tempat.
"Kalau dari segi USB ini menarik. Sebetulnya saya gaptek. Saat itu saya punya flashdisk terus ngomongin album. Kita pikir wah kenapa enggak dibikin USB aja dalam bentuk gelang. Gelang ini istimewa, ini emang untuk fashion, tapi istimewa karena ada albumnya. Ada video klip, lagu, biografi, ringback tone," ujar Tony saat menggelar jumpa pers di Warung Hoody, Pejaten, Jakarta Selatan, Sabtu (8/9/2012).
Dengan merilis album USB, Tony tidak khawatir dengan pembajakan yang selama ini sudah menjamur. Menurutnya, para pembajak itu hanya bisa memiliki lagu-lagunya saja, tapi tidak gelang USB-nya yang menjadi kebanggan tersendiri bagi yang membeli album tersebut.
"Kita gak bisa pungkiri tentang teknologi. Mau dengan model apapun tetap aja bisa dimaling. Menurut kita, kalo bajak itu gak mungkin distop. Paling tidak kita buat inovasi, tapi bukan untuk dibajak," tambah Tony.
"Gelang ini adalah sebuah kebanggaan bagi kawan-kawan apalagi ada isi lagunya. Kalo dibajak tapi mereka gak punya gelangnya cuma punya lagunya. Kalo soal bajakan saya gak pernah khawatir, soalnya rejeki kan enggak ke mana," pungkasnya.
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Kamis, 29 November 2012

Steven Nugraha Kalagis Ingin Sendiri

Lama sudah tak terdengar kabar dari group band Steven & Coconut Treez, belakangan tersiar kabar jika band tersebut membubarkan diri. Mungkin kabar ini sedikit mengecewakan bagi para penggemar musik REGGAE..
Disamping kabar berita tersebut muncul band baru STEVEN JAM, dimana tak lain yakni pentolan sekaligus vokalis steven coconut treez terdahulu.. STEVEN JAM membawa suasana baru dalam musik reggae Indonesia selain itu  STEVEN JAM merupakan sebuah konsep solo beraliran musik Reggae, dengan album title “FEEL THE VIBRATION”; meciptakan album yang, album ini berisi 11 Jagu mengangkat tema keseharian, social dan cinta, Semua Lagu dalam album ini adalah ciptaan Steven Nugraha Kaligis (vokalis Steven &Coconuttreez). Konsep dasar album ini adalah Reggae namun diberikan sentuhan sentuhan musik modem seperti Pop, Rock dll sehingga kiranya dapat diterima oleh segala lapisan, referensi album ini diantaranya adalah Big Mountain, Sublime, 311 dan Bob Marley.Ide atau terealisasinya dari pembuatan alburn ini mem akan waktu 6 bulan sejak bulan Maret 2010 dengan dibantu oleh beberapa musisi lama baik musisi reggae maupun musisi lainnya diantaranya adalah  LyusRastafara, lyek , Getto, Aco, Teguh Coconutreez, Indha, Boy, Denny Monkey boots,.Egi Tipe X, Anto tipe X, Ewin Kunci, Ondit, Aksa Pasukan 5 Jari, Nyonyo Marjinal,. Edwin Monkey Boots, Dony Boys n Roots, Erick May, Rama BB,dll Proses tracking & mixing dilaksanakan di 267 studio.


FOLLOW
»»  LANJUTKAN MEMBACA

Jumat, 23 November 2012

Bob Marley - Collection (18CD) (Studio Album) (1970-2009)



Track List:
CD-01. Soul Rebels / 01:02:42 / 146,67 MB
01. Soul Rebel
02. Try Me
03. It's Alright
04. No Sympathy
05. My Cup
06. Soul Almighty
07. Rebel's Hop
08. Corner Stone
09. Four Hundred Years
10. No Water
11. Reaction
12. My Sympathy
13. Dreamland
14. Dreamland Version
15. Dracula
16. Soul Rebel Version 4
17. Version Of Cup
18. Zig Zag
19. Jah Is Mighty
20. Brand New Second Hand
21. Brand New Second Hand Version
22. Downpresser

CD-02. Soul Revolution Part II / 00:40:31 / 100,84 MB
01. Keep On Moving
02. Don't Rock My Boat
03. Put It On
04. Fussing & Fighting
05. Duppy Conqueror V/4
06. Memphis
07. Riding High
08. Kaya
09. African Herbsman
10. Stand Alone
11. Sun Is Shining
12. Brain Washing
13. Kaya (Alternate Take)
14. Duppy Conqueror (Alternate Take)

CD-03. Soul Revolution / 00:41:14 / 95,98 MB
01. Keep On Moving
02. Don't Rock My Boat
03. Put It On
04. Fussing And Fighting
05. Duppy Conqueror
06. Memphis
07. Soul Rebel
08. Riding High
09. Kaya
10. African Herbsman
11. Stand Alone
12. Sun Is Shining
13. Brain Washing
14. Mr. Brown

CD-04. The Best Of / 00:31:15 / 73,56 MB
01. Soul Shakedown Party
02. Stop That Train
03. Caution
04. Soul Captives
05. Go Tell It On The Mountain
06. Can't You See
07. Soon Come
08. Cheer Up
09. Back Out
10. Do It Twice
11. Soon Come (Version)
12. Soul Shakedown Party (Version)

CD-05. Burnin' / 00:55:52 / 137,76 MB
01. Get Up, Stand Up
02. Hallelujah Time
03. I Shot The Sheriff
04. Burnin' And Lootin'
05. Put It On
06. Small Axe
07. Pass It On
08. Duppy Conqueror
09. One Foundation
10. Rasta Man Chant
11. Reincarnated Souls
12. No Sympathy
13. The Oppressed Song
14. Get Up, Stand Up (Unreleased Alternate Take)
15. Get Up, Stand Up (Unreleased Single Version)

CD-06. Burnin' / 01:19:49 / 190,54 MB
01. Duppy Conqueror
02. Slave Driver
03. Burnin' And Lootin'
04. Can't Blame The Youth
05. Stop That Train
06. Midnight Ravers
07. No More Trouble
08. Kinky Reggae
09. Get Up, Stand Up
10. Stir It Up
11. Put It On
12. Lively Up Yourself

CD-07. Catch A Fire / 00:44:23 / 108,48 MB
01. Concrete Jungle
02. Stir It Up
03. High Tide Or Low Tide
04. Stop That Train
05. 400 Years
06. Baby We've Got A Date (Rock It Baby)
07. Midnight Ravers
08. All Day All Night
09. Slave Driver
10. Kinky Reggae
11. No More Trouble

CD-08. Catch A Fire / 00:36:16 / 88,65 MB
01. Concrete Jungle
02. Slave Driver
03. 400 Years
04. Stop That Train
05. Baby We've Got A Date (Rock It Baby)
06. Stir It Up
07. Kinky Reggae
08. No More Trouble
09. Midnight Ravers

CD-09. Natty Dread / 00:42:09 / 102,81 MB
01. Lively Up Yourself
02. No Woman, No Cry
03. Them Belly Full (But We Hungry)
04. Rebel Music (3 O'clock Roadblock)
05. So Jah Seh
06. Natty Dread
07. Bend Down Low
08. Talkin' Blues
09. Revolution
10. Am-A-Do

CD-10. Rasta Revolution / 00:37:18 / 87,04 MB
01. Mr. Brown
02. Soul Rebel
03. Try Me
04. It's Alright
05. No Sympathy
06. My Cup
07. Duppy Conqueror
08. Rebel's Hop
09. Corner Stone
10. 400 Years
11. No Water
12. Reaction
13. Soul Almighty

CD-11. Rastaman Vibration / 01:07:29 / 167,66 MB
01. Positive Vibration
02. Roots, Rock, Reggae
03. Johnny Was
04. Cry To Me
05. Want More
06. Crazy Baldhead
07. Who The Cap Fit
08. Night Shift
09. War
10. Rat Race
11. Jah Live (Original Mix)
12. Concrete
13. Roots, Rock, Reggae (Unreleased Single Mix)
14. Roots, Rock, Dub (Unreleased Single Dub Mix)
15. Want More (Unreleased Alternate Album Mix)
16. Crazy Baldhead (Unreleased Alternate Album Mix)
17. War (Unreleased Alternate Album Mix)
18. Johnny Was (Unreleased Alternate Album Mix)

CD-12. Rastaman Vibration / 01:08:08 / 177,79 MB
01. Introduction
02. Trenchtown Rock
03. Burnin' & Lootin'
04. Them Belly Full (But We Hungry)
05. Rebel Music (3 O'clock Roadblock)
06. I Shot The Sheriff
07. Want More
08. No Woman No Cry
09. Lively Up Yourself
10. Roots, Rock, Reggae
11. Rat Race
12. Smile Jamaica (Part One)
13. Smile Jamaica (Part Two)
14. Smile Jamaica (Part Two)

CD-13. Exodus / 00:58:10 / 139,47 MB
01. Natural Mystic
02. So Much Things To Say
03. Guiltiness
04. The Heathen
05. Exodus
06. Jamming
07. Waiting In Vain
08. Turn Your Lights Down Low
09. Three Little Birds
10. One Love/People Get Ready
11. Roots (B-Side Of "Waiting In Vain" Single)
12. Waiting In Vain (Alternate Version, Previously Unreleased)
13. Jamming (Long Version, A-Side Of 12" Single)
14. Jamming (Version, Previously Unreleased)
15. Exodus (Version, B-Side Of "Exodus" Single)

CD-14. Exodus / 01:17:02 / 184,40 MB
01. The Heathen (Previously Unreleased)
02. Crazy Baldhead/Running Away (Previously Unreleased)
03. War/No More Trouble (Prevoiusly Unreleased)
04. Jamming (Previously Unreleased)
05. Exodus (Previously Unreleased)
06. Punky Reggae Party (A-Side Of Jamaican 12" Single)
07. Punky Reggae Party (Dub, B-Side Of Jamaican 12" Single)
08. Keep On Moving (Previously Unreleased Original Mix)
09. Keep On Moving (Dub, Previously Unreleased Original Mix)
10. Exodus Advertisement
11. Exodus Advertisement

CD-15. Kaya / 00:42:22 / 103,35 MB
01. Easy Skanking
02. Kaya
03. Is This Love
04. Sun Is Shining
05. Satisfy My Soul
06. She's Gone
07. Misty Morning
08. Crisis
09. Running Away
10. Time Will Tell
11. Smile Jamaica (Alt. Version)

CD-16. Survival / 00:44:37 / 108,01 MB
01. So Much Trouble In The World
02. Zimbabwe
03. Top Rankin'
04. Babylon System
05. Survival
06. Africa Unite
07. One Drop
08. Ride Natty Ride
09. Ambush In The Night
10. Wake Up And Live (Marley/Davis)
11. Ride Natty Ride (12" Mix)

CD-17. Uprising / 00:46:33 / 110,31 MB
01. Coming In From The Cold
02. Real Situation
03. Bad Card
04. We And Dem
05. Work
06. Zion Train
07. Pimper's Paradise
08. Could You Be Loved
09. Forever Loving Jah
10. Redemption Song
11. Redemption Song [Band Version]
12. Could You Be Loved (12'' Mix)

CD-18. Confrontation / 00:45:33 / 110,16 MB
01. Chant Down Babylon
02. Buffalo Soldier
03. Jump Nyabinghi
04. Mix Up, Mix Up
05. Give Thanks And Praises
06. Blackman Redemption
07. Trench Town
08. Stiff Necked Fools
09. I Know
10. Rastaman Live Up!
11. Buffalo Soldier (12" Mix)
»»  LANJUTKAN MEMBACA